Kampung di desa kelahiranku masih seperti dahulu, tidak banyak jauh berbeda.Kira-kira masih sama seperti 20 tahun yang lalu. Tidak banyak penambahan bagunan fisik yang baru. Kalaupun ada paling banyak di pinggir jalan raya. Perbedaannya terletak pada bangunan lama yang tampak baru karena renovasi. Jarak antar rumah rata-rata radius 50-100 m, baru sampai ke rumah berikutnya. dari rumah ke rumah terpisahkan oleh ladang yang dahulu terawat dan ditanami tanaman palawija, padi dan ketela, sekarang dibiarkan rimbun dan sengaja ditanami pohon jati dan tanaman keras/kayu lainnya yang memang tidak memerlukan perawatan khusus, menguras tenaga dan yang penting lebih menguntungkan, untuk kebutuhan jangka panjang.
Penghuninyapun rata-rata sudah banyak yang berusia setengah baya/tua beserta anak anak sampai usia sekolah SLTA. Para remaja/pemuda lebih suka merantau (selain yang bisa melanjutkan belajar di kota). Bagaimana mereka bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari buat keluarga mereka? Mereka bebcocok tanam di ladang yang hanya mendapat pengairan di musim hujan (tadah hujan). Beternak (ayam kampung, kambing, sapi), mengumpulkan kayu bakar untuk dijual, menjual kayu di pekarangan untuk bahan bangunan, menambang batu kapur untuk dijual sebagai bahan bangunan, berdagang di pasar-pasar tradisional, buruh bangunan di kota-kota besar untuk kembali lagi seminggu sekali, Mereka bisa bertahan hidup dengan keadaan alam mereka yang keras. Banyak mengeluh atau tidakpun nggak jauh bedanya, mereka tetap bertahan.
Lebih detail lagi, keseriusan mereka dalam bekerja, adalah ketika mereka bercocok tanam. Mulai dari menyiapkan lahan di musim kemarau yang kering kerontang, Tanah yang keras bagai batu mereka cangkul berhektar-hektar. Setelah tanah rata menjadi bongkahan-bongkahan, mereka masih harus menyebarkan pupuk kandang dari kandang ternaknya. Setelah musim hujan tiba, mereka terlebih dahulu harus meratakan bongkahan tanah menjadi lebih halus untuk ditaburi benih padi. Setelah tumbuhpun mereka harus menyiangi rumput berkala sampai menjelang panen. Setelah panen pun mereka sibuk memanen dan menjemur. Giliran tiba saatnya menjual hasil panen, mereka tak banyak mendapat keuntungan, karena musim panen harga pasti anjlok.
Sekilas betapa berat dan susah kehidupan mereka, tapi bagaimana cara mereka, sehingga mereka tetap sukses bertahan hidup, berhasil menyekolahkan dan mengentaskan anak-anak mereka.
Saya mesti banyak belajar dari mereka.