Pagi hari, bangun tidur malas bikin sarapan, mendingan keluar jalan sebentar, cari sarapan, buat anak dan istri. Untung ada penjual (Jogja) angkringan - nasi kucing. Lumayan, " Bungkus , mBak ! " Aku ambil nasi kucing dua bungkus nasi lauk teri sambel, dua bungkus nasi lauk tempe kering, tambah dua tusuk sate ayam. Lalu dengan cekatan bungkus tas plastik (kresek), sambil bertanya " apalagi, Pak? Aku jawab, "sudah itu saja, berapa mbak?" "Empat ribu Rupiah, Pak." Sambil menerima bungkusan aku serahkan selembar uang lima ribu rupiah, lumayan masih ngantongin uang kembalian seribu rupiah, lumayan untuk tambah uang saku anakku sekolah yang tiap sekolah harus dikasih tiga ribu rupiah.
Sampai di rumah ternyata istriku suka juga, tapi anakku yang nggak mau. Nggak apa-apa, anakku lebih suka bikin sereal sama selembar roti tawar dioles susu kental manis dan ditaburi mesis , yang memang semua selalu tersedia di kulkas. Akhirnya kebiasaan pagi hari ya, nggak ada bosan-bosannya begitu terus, aku dan istriku jadi "kucing-kucingan". Maklum harga pokok dipasar sudah melambung tinggi, ikan, ayam, telur, minyak goreng, tempe tahupun ikut-ikutan naik. Jadi banting setir, pola sarapan kali ini. Coba bandingkan sebelumnya. Kadang-kadang beli lauk di Rumah Makan Padang, satu rendang, satu cumi, satu perkedel, harus merogoh kocek duapuluh lima ribu rupiah, sekali sarapan. Bisa untuk enam hari sarapan nasi kucing.
Memang kelas nya cuman nasi kucing, apa boleh buat, yang penting "kumpul-kumpul sambil makan-makan" daripada "makan nggak makan yang penting kumpul".