Baru beberapa hari setelah peringatan hari buruh dunia, ternyata banyah buruh hampir di semua negara, banyak yang bernasib buruk. Negara yang dibilang maju dan makmurpun, tidak bisa lepas dari masalah PHK buruh.
Di Jerman, nasib 4000-an buruh perusahaan Nokia sebuah perusahaan produk mobile phone terbesar di dunia, tutup. Perusahaan tersebut pilih pindah dari Jerman ke sebuah negara di kawasan Eropa timur, dengan alasan lebih menghemat biaya untuk bisa bersaing dengan produk-produk mobile phone dari Asia timur (Jepang. Korea dan China) yang sudah lama membanjiri pasaran dunia dengan harga yang lebih murah dari pada Nokia.
Di Inggris, yang terkenal negara yang makmur pun baru-baru ini, banyak perusahaan Real Estate yang mem-PHK ribuan karyawan. Karena terjadi penurunan dratis penjualan property di Inggris, membuat harga property di Inggris turun drastis. Praktis membuat para pengusaha property menghemat dengan cara perampingan jumlah karyawan yang mengakibatkan ribuan tenaga kerja di PHK.
Terus bagaimana dengan nasib buruh di negara-negara berkembang dan miskin. Di negeri kita sendiri sudah lama persoalan pengangguran menjadi biasa terdengar. Belum ada solusi yang pas dan nyata untuk menanggulangi semakin bertambahnya jumlah pengangguran. Hambatan dan persoalan dalam pengiriman TKI ke luar negeri yang masih bayak ilegalnya, belum lagi jika nantinya negara penyerap TKI sudah membatasi TKI atau bahkan menghentikan. Banyak investor asing yang menghentikan usahanya di Indonesia semakin membikin ruwet.
Kita dan pemerintah seharusnya siap lebih awal mengantisipasi persoalan pengangguran dengan, memaksimalkan semua sumber daya alam Indonesia yang lebih unggul dari negara manapun di dunia yaitu Kelautan dan Kepulauan.
Monggo para pemimpin dan pemikir bangsa untuk segera bertindak.