Bagai sinetron dan kethoprak, perbandingan dapur modern dan dapur tradisional.
Keadaan fisik boleh berbeda, tapi untuk suasana keceriaan mungkin tak kalah riangnya dengan suasana di rumah-rumah modern perkotaan. Itulah gambaran suasana dapur-dapur tradisional pedesaan jika sedang punya hajat. Juru masak-juru masak dengan ketrampilan yang mereka dapatkan secara otodidak/turun temurun. Tetap menghasilkan masakan yang mempunyai cita rasa yang tinggi, Untuk penampilan masakan memang jauh dibandingkan dengan yang disajikan di Retaurant dan hotel-hotel mewah di kota. Sehingga ada istilah "rupo ora sepiroa, nanging rasane luwih miroso" (rupa tidak seberapa tapi rasanya lebih tersasa (lezat tentunya).
Tugas merekapun, masing-masing. Sesuai dengan ketrampilan atau kebiasaan. Tak perlu sewa juru masak jauh-jauh cukupdari tetangga dan saudara sekitar.
Dapur mereka tetap komplit, ada "keren(pawon/luweng) sebagai ganti kompor gas/kompor minyak. Tempat air bersih "gentong" besar di sudut/pojok ruangan dapur, dengan "siwur" (gayung air dari bahan batok kelapa utuh. Lengkap denag "pogo" sebagai pengganti kitchen set (lemari-lemari) untuk menaruh/menyimpan perkakas dapur.
Tetapi Jika dibanding dengan dapur modern yang terlihat lebih minimalis dan bersih, dapur tradisional tampak luas dan kelihatan agak semrawut memang.