Dongeng si Embah di Purnama Gunungkidul - JADUL

Sambil bercengkrama, gelar tikar dari daun pandan atau mendong, kakek nenek dahulu sering memberi petuah-petuah. Biasanya waktu malam minggu terang bulan purnama. Biasanya anak cucu mereka berdekatan rumahnya. Sambil menengadah ke langit yang terlihat bintang suram bersinar, kalah dengan terangnya sinar purnama, tapi lebih terang dari caha lampu teplok di rumah.
Nenek mulai memberikan petuah-petuahnya:
- Aja golek wah, mengko dadi owah – Yang artinya kurang lebih begini: Jangan ingin di bilang “wah” nanti bisa gila sanjungan. (“owah” = berubah = berubah mentalnya=gila).
- Ana catur mungkur – Menghindar jika ada orang ngerumpi/ngegosip.
- Ambeg parama arta – Mendahulukan tugas dan kwajiban atau mempunyai rasa tanggungjawab yang tinggi.
- Ati bengkong oleh oncong – Orang punya niat jahat dan ada peluang.
- Becik ketitik, ala ketara – Tidak usah takut bertindak benar, sebab benar salahnya tindakan kita, akhirnya juga akan ketahuan.
- Canthing jali – Orang yang tidak bisa diisi ilmu, karena pikirannya sudah tidak sampai.
- Busuk ketekuk, pinter keblinger – Orang bodoh malah ceroboh, yang pintar menyalahgunakan kepintarannya.
- Durung Pecus, keselak besus – Orang yang belum faham akan kemampuanya tapi sudah banyak mengumbar kepintarannya.
- Jer Basuki mawa beya – Jika ingin berhasil memang harus berani mengeluarkan biaya untuk belajar.
- Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang – Orang tertimpa bencana tidak pernah ada yang bisa menduga sebelumnya.
- Kendel ngringkel, dhadhag ora godag - mengaku berani & pintar, ternyata tidak punya nyali.
- Kebat kliwat, gancang pincang – Bertindak tergesa-gesa, hasilnya pasti tidak memuaskan.
- Mrojol selaning garu – Orang yang punya kepintaran lebih.
- Sing bisa rumangsa aja rumangsa bisa – Agar senantiasa bisa merasakan kelebihan dan kekurangan , jangan merasa sok bisa.
- Tembang rawat-rawat, ujare bakul sinamberawa – kabar yang belum tentu kebenarannya.
- Tuna sathak, bathi sanak – Rugi materi namun untung persaudaraan.
- Yitna yuwana, lena kena – Yang berhati-hati akan selamat, yang ceroboh akan celaka.
Setelah larut dan mengantuk, para orang tua membopong anaknya masuk rumah untuk tidur. Diiringi sayup terdengar jengkerik dan kodok bernyanyi.