Blog EntryGunungkidul Ceritanya NenekMay 28, '08 10:36 PM
for everyone

Dongeng Gunungkidul untuk Anak Cucuku

 

Pengalaman masa kecil dahulu, maklum masa kecilku sudah jadul, di pelosok dan di Gunungkidul lagi. Tetapi tidak semua bernasib seperti saya dan bukan hanya di Gunungkidul saja tentunya. Banyak nasib anak-anak pada masa kecilku di daerah lain mengalami nasib yang sama. Hidup di lingkungan keluarga yang miskin di pelosok Gunungkidul. Daerah yang konon dipandang mengerikan dengan cap-cap : kekeringan, tandus, gersang, “larang pangan” , “pulung gantung”,  “gaplek”, “thiwul”, PRT, mudik/pulang kampung dan apalagi sebutan dan kata yang identik dengan Gunungkidul.

Di kampungku sampai th 1991, baru bisa menikmati penerangan listrik PLN. Seluruh masa kecil sampai remajaku hidup di daerah yang gelap gulita tanpa peneranga listrik. Malam hari penerangan adanya hanya lampu berbahan baker minyak tanah : “senthir”, ‘teplok-an”, dan jika ada hajatan penerangan paling banter lampu “petromax”, sedangkan untuk penerangan dalam perjalanan menggunakan “oncor”, obor yang menggunakan batang bambu bersumbu kain katun dan berbahan bakar minyak tanah.

 

Hiburan di dalam keluargaku adalah radio transistor yang biasanya diunggulkan jumlah band-nya. Ada lecucon jadul bila menyombongkan diri pasti mengikutkan radio bapakya, “Bapak di rumah punya radio dua band lho” (Band : SW dan MW). Radio bersumber tenaga batu baterai. Jarang yang punya televisi, era 70 s/d 80-an. Satu kampung (desa) yang punya TV hanya satu orang. Kebetulan nenekku, bukan karena nenekku orang kaya di desaku, tetapi hanya bernasib mujur saja. Mengapa dibilang mujur, karena banyak orang kaya atau jadul disebut sebagai orang “priyayi”, sebutan untuk orang kaya atau guru dan pejabat yang belum memiliki televisi. Tetapi om saya waktu itu menjadi perantau yang mujur dan membawa pulang pesawat televisi, setelah pulang merantau dari Jakarta dan ikut kapal pesiar. Akupun ikut nebeng menikmati masa kecil yang tahu acara televisi. Sebagi sumber tenaga waktu itu hanya mengandalkan Accu yang seminggu sekali atau kurang (tergatung kualitas accu), mesti diisi waktu itu kami mengistilahkan “disetroom”. Hampir tiap malam atau puncaknya malam minggu dan ada penayangan kesenian tradisional “Kethoprak” di TVRI Yogyakarta, pasti satu rumah penuh. Ada yang datang jauh dari kampong lain dari sore, hanya untuk menunggu acara di mulai. Itupun kalau Accu masih penuh setroom-nya, kalau sudah ada gejala tekor (drop), harus sabar menanti tunggu acara dimulai baru dinyalakan TV-nya, biar irit.

 

Kalau soal air, untungnya dari jaman nenek moyang dahulu sepanjang masa tidak kekurangan. Di kampungku masih bisa digali sumur, walau agak dalam rata-rata 10-15 meter, tapi setelah digali tanahnya sekitar 2 meter yang 10 meter berikutnya adalah batu kapur atau andesit, “cadas”. Bikin satu sumur sampai keluar air bisa 1 bulan lebih. Tahun 70-80-an, masih jarang rumah yang mampu mempunyai sumur sendiri, banyak yang nebeng sumur tetangga yang airnya melimpah, karena tiap sumur berbeda debit sumber airnya, tergantung posisi atau letak sumbet air bawah tanah yang digalinya. Perlu diketahui bahwa lapisan kulit bumi di sebagian besar wilayah Gunungkidul adalah lapisan bebatuan kapur. Tetapi kandungan air sungai bawah tanahnya ternyata masih melimpah, tinggal dicari solusinya untuk menaikkan ke permukaan.


10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
srisariningdiyah wrote on May 28
thanks for sharing mas... :)
udah tahu dari cerita2 keadaan di sana...
tapi tahu dari smber langsung lebih menyenangkan... ;)
semoga makin maju pengetahuan orang2 di daerah2 yang minus listrik...
pantang menyerah!!!
kangduljoni wrote on May 29
Tapi biasane tepa selira, gotong royong lan sifat sosial lainnya masih kental to mas secara urip ning - nyuwun sewu, aku yo wong ndhusun-- ndeso ... Ngga kayak di kota - kota gedhe, yang cenderung indipidualistis. Seringkali kita yang lama hidup di kota dimana semua fasilitas serba enak dan tersedia, justru melupakan sifat manusia sebagai makhluk sosial lho.. ya itu tadi, dadi indipidualistiz gituu
matakumatamu wrote on May 29
Wah jangan nakut-nakutin dong...saya mau ke gunung kidul nih...masak nggak bisa mandi sih :((
chibihimawari wrote on May 29
jadi ingat (meskipun samar2) tentang beberapa hal yang Mas Albam tulis di atas...
masih kecil banget saya waktu itu...betapa nikmatnya Mbah Kakung terkantuk2 di kursi sambil dengerin radio 2 band-nya....
Jadi kangen rumah nih...

Eh, ngomong2 tentang Gunugkidul, saya sangat bersyukur terlahir dan besar di sana, meski dengan apapun kondisinya, karena kehidupan sebagai orang Gunugkidul membuat saya lebih kuat daripada yang saya sadari...
Seandainya, saya terlahir di kota lain yang bergelimang kenikmatan dunia, barangkali saya tidak akan begitu "semangat" seperti saat ini.

Makasih atas tulisannya Mas!
albam wrote on Jun 3
thanks for sharing mas... :)
udah tahu dari cerita2 keadaan di sana...
tapi tahu dari smber langsung lebih menyenangkan... ;)
semoga makin maju pengetahuan orang2 di daerah2 yang minus listrik...
pantang menyerah!!!
Sekedar berbagi cerita, mbak. Saya dulu seneg banget denger cerita om-om saya yang pulang merantau dari Jakarta tentang suasana dan keadaan kota-kota yang disinggahinya. Olehkarena itu saya juga mau berbagi cerita dari sudut pandang pelosok negeri ini, dengan memanfaatkan teknologi internet yang telah merasuk jauh ke dalam pelosok desa.
albam wrote on Jun 3
Tapi biasane tepa selira, gotong royong lan sifat sosial lainnya masih kental to mas secara urip ning - nyuwun sewu, aku yo wong ndhusun-- ndeso ... Ngga kayak di kota - kota gedhe, yang cenderung indipidualistis. Seringkali kita yang lama hidup di kota dimana semua fasilitas serba enak dan tersedia, justru melupakan sifat manusia sebagai makhluk sosial lho.. ya itu tadi, dadi indipidualistiz gituu
Memang sekilas nampak ada begitu jauh jurang pemisah antara kota dan desa, tapi jika kita bisa menempatkan diri dimanapun ita berada tentunya akan biasa saja, om. Kita agar bisa saja membuka mata lebar terhadap keadaan dan kerasnya dunia daerah lain yang dialami saudara-saudara lain, dari sudut pandang masing-masing.
albam wrote on Jun 3
Wah jangan nakut-nakutin dong...saya mau ke gunung kidul nih...masak nggak bisa mandi sih :((
Jangan khawatir om, keadaan sekarang jauh beda dari 32 tahun yang lalu. Sekarang sudah banyak kemajuan dan perkembangan fasilitas air bersihnya.
albam wrote on Jun 3
jadi ingat (meskipun samar2) tentang beberapa hal yang Mas Albam tulis di atas...
masih kecil banget saya waktu itu...betapa nikmatnya Mbah Kakung terkantuk2 di kursi sambil dengerin radio 2 band-nya....
Jadi kangen rumah nih...

Eh, ngomong2 tentang Gunugkidul, saya sangat bersyukur terlahir dan besar di sana, meski dengan apapun kondisinya, karena kehidupan sebagai orang Gunugkidul membuat saya lebih kuat daripada yang saya sadari...
Seandainya, saya terlahir di kota lain yang bergelimang kenikmatan dunia, barangkali saya tidak akan begitu "semangat" seperti saat ini.

Makasih atas tulisannya Mas!
Sebagai refleksi diri terhadap keadaan yang telah, sedang dan yang akan kita alami, mbak. Ternyata sejauh mata kita melangkah, selama kita menjalani hidup, ternyata kita tak bisa lepas dari dasar "gemblengan" dan didikan masa silam.
jarwadiku wrote on Jun 11
ternyata pengalaman orang itu bermacam macam, dengan sharing pengalaman seperti ini kita banyak belajar untuk menjadi (benar benar) manusia

mAAf ikut berkomentar
albam wrote on Jun 12
ternyata pengalaman orang itu bermacam macam, dengan sharing pengalaman seperti ini kita banyak belajar untuk menjadi (benar benar) manusia

mAAf ikut berkomentar
Warisan harta benda ke anak cucu, berupa materi jelas terbatas. Tapi Pengalaman hidup tak ada batas oleh ingatan kita. Semoga bangsa ini benar-benar menjadi besar dengan menghargai sejarah bangsanya sendiri.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help