Dongeng Gunungkidul untuk Anak Cucuku
Pengalaman masa kecil dahulu, maklum masa kecilku sudah jadul, di pelosok dan di Gunungkidul lagi. Tetapi tidak semua bernasib seperti saya dan bukan hanya di Gunungkidul saja tentunya. Banyak nasib anak-anak pada masa kecilku di daerah lain mengalami nasib yang sama. Hidup di lingkungan keluarga yang miskin di pelosok Gunungkidul. Daerah yang konon dipandang mengerikan dengan cap-cap : kekeringan, tandus, gersang, “larang pangan” , “pulung gantung”, “gaplek”, “thiwul”, PRT, mudik/pulang kampung dan apalagi sebutan dan kata yang identik dengan Gunungkidul.
Di kampungku sampai th 1991, baru bisa menikmati penerangan listrik PLN. Seluruh masa kecil sampai remajaku hidup di daerah yang gelap gulita tanpa peneranga listrik. Malam hari penerangan adanya hanya lampu berbahan baker minyak tanah : “senthir”, ‘teplok-an”, dan jika ada hajatan penerangan paling banter lampu “petromax”, sedangkan untuk penerangan dalam perjalanan menggunakan “oncor”, obor yang menggunakan batang bambu bersumbu kain katun dan berbahan bakar minyak tanah.
Hiburan di dalam keluargaku adalah radio transistor yang biasanya diunggulkan jumlah band-nya. Ada lecucon jadul bila menyombongkan diri pasti mengikutkan radio bapakya, “Bapak di rumah punya radio dua band lho” (Band : SW dan MW). Radio bersumber tenaga batu baterai. Jarang yang punya televisi, era 70 s/d 80-an. Satu kampung (desa) yang punya TV hanya satu orang. Kebetulan nenekku, bukan karena nenekku orang kaya di desaku, tetapi hanya bernasib mujur saja. Mengapa dibilang mujur, karena banyak orang kaya atau jadul disebut sebagai orang “priyayi”, sebutan untuk orang kaya atau guru dan pejabat yang belum memiliki televisi. Tetapi om saya waktu itu menjadi perantau yang mujur dan membawa pulang pesawat televisi, setelah pulang merantau dari Jakarta dan ikut kapal pesiar. Akupun ikut nebeng menikmati masa kecil yang tahu acara televisi. Sebagi sumber tenaga waktu itu hanya mengandalkan Accu yang seminggu sekali atau kurang (tergatung kualitas accu), mesti diisi waktu itu kami mengistilahkan “disetroom”. Hampir tiap malam atau puncaknya malam minggu dan ada penayangan kesenian tradisional “Kethoprak” di TVRI Yogyakarta, pasti satu rumah penuh. Ada yang datang jauh dari kampong lain dari sore, hanya untuk menunggu acara di mulai. Itupun kalau Accu masih penuh setroom-nya, kalau sudah ada gejala tekor (drop), harus sabar menanti tunggu acara dimulai baru dinyalakan TV-nya, biar irit.
Kalau soal air, untungnya dari jaman nenek moyang dahulu sepanjang masa tidak kekurangan. Di kampungku masih bisa digali sumur, walau agak dalam rata-rata 10-15 meter, tapi setelah digali tanahnya sekitar 2 meter yang 10 meter berikutnya adalah batu kapur atau andesit, “cadas”. Bikin satu sumur sampai keluar air bisa 1 bulan lebih. Tahun 70-80-an, masih jarang rumah yang mampu mempunyai sumur sendiri, banyak yang nebeng sumur tetangga yang airnya melimpah, karena tiap sumur berbeda debit sumber airnya, tergantung posisi atau letak sumbet air bawah tanah yang digalinya. Perlu diketahui bahwa lapisan kulit bumi di sebagian besar wilayah Gunungkidul adalah lapisan bebatuan kapur. Tetapi kandungan air sungai bawah tanahnya ternyata masih melimpah, tinggal dicari solusinya untuk menaikkan ke permukaan.
